Jakarta, diIndonesia.com
Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) menyatakan dukungan penuh terhadap gagasan “Anti-Serakahnomics” yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di forum internasional KTT APEC 2025 di Gyeongju, Korea Selatan.

Presiden Prabowo sebelumnya menyerukan agar para pemimpin dunia meninggalkan praktik ekonomi rakus (Serakahnomics) yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Ia menegaskan bahwa sistem ekonomi global saat ini sering kali mengabaikan keadilan sosial dan mengorbankan kesejahteraan rakyat kecil.

“Kita hidup di dunia yang terancam oleh Serakahnomics — sistem yang dikuasai oleh kerakusan, ketimpangan, dan eksploitasi. Indonesia tidak boleh tunduk pada sistem yang memiskinkan rakyat dan merusak bumi,”
— ujar Prabowo dalam pidatonya yang dikutip dari Liputan6, Minggu (2/11/2025).


PRIMA Angkat Isu Keadilan Ekonomi Nasional

Ketua Umum Partai PRIMA, Agus Jabo Priyono, menilai langkah Presiden Prabowo itu sejalan dengan semangat ekonomi kerakyatan yang diperjuangkan partainya.

Menurut Agus Jabo, konsep Serakahnomics menggambarkan sistem ekonomi yang dikuasai oleh tiga kekuatan utama:

  1. Imperialisme ekonomi global,
  2. Oligarki sumber daya alam, dan
  3. Birokrasi korup yang memperkaya diri sendiri.

“Musuh utama bangsa hari ini adalah Serakahnomics. Ia menindas rakyat kecil, menghisap kekayaan alam, dan mengabaikan nilai-nilai keadilan sosial. Kami mendukung penuh Presiden Prabowo untuk melawan sistem ekonomi yang rakus ini,” ujar Agus Jabo dalam keterangan tertulisnya, dikutip dari DetikNews dan Kompas.com.

PRIMA menilai pernyataan Prabowo di APEC sebagai langkah strategis yang menegaskan posisi Indonesia sebagai negara berdaulat dan berpihak kepada rakyat.

“Ini bukan sekadar pidato politik, tapi peringatan moral kepada dunia bahwa kerakusan ekonomi telah menimbulkan krisis pangan, energi, dan moralitas. Indonesia harus memimpin dengan contoh — membangun ekonomi yang adil dan manusiawi,”
tambah Agus Jabo.


Respons Beragam dari Kalangan Ekonomi dan Politik

Sejumlah pengamat ekonomi menyambut positif seruan Prabowo. Ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Rudi Hartono, menilai istilah Anti-Serakahnomics bisa menjadi momentum pergeseran paradigma ekonomi global.

Namun, Rudi juga mengingatkan pentingnya langkah konkret di dalam negeri.

“Isu anti-kerakusan ini bagus, tapi implementasinya harus dimulai dari reformasi tata kelola sumber daya dan pemberantasan korupsi di dalam negeri,” ujarnya kepada diIndonesia.com.

Sementara itu, dari kubu oposisi, politisi Partai Hijau Nusantara, Maya Sari, mengapresiasi semangat keadilan sosial dalam gagasan tersebut, namun menyoroti bahwa pemerintah juga harus konsisten.

“Anti-Serakahnomics tidak boleh berhenti di pidato. Rakyat menunggu bukti: distribusi tanah, penataan energi, dan keberpihakan pada petani serta nelayan,” katanya.


Profil Singkat: Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA)

📌 Nama: Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA)
📌 Ketua Umum: Agus Jabo Priyono
📌 Asal-usul: Berakar dari gerakan rakyat pascareformasi yang fokus pada isu keadilan sosial, kedaulatan ekonomi, dan anti-oligarki.
📌 Arah Politik: Kiri-nasionalis dengan penekanan pada ekonomi kerakyatan, anti-korupsi, dan perlindungan terhadap kelas pekerja serta petani.
📌 Tagline Politik: “Rakyat Adil, Negara Makmur.”

Menuju Diplomasi Ekonomi yang Berkeadilan

Bagi PRIMA, gagasan Anti-Serakahnomics tidak hanya relevan untuk dunia, tetapi juga menjadi panduan bagi arah pembangunan Indonesia.
Partai ini mendorong agar prinsip Pasal 33 UUD 1945 diterjemahkan ke dalam kebijakan ekonomi nasional yang berlandaskan gotong-royong dan pengelolaan kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat.

“Kita ingin bangsa ini tidak lagi menjadi penonton dalam drama ekonomi global. Indonesia harus menjadi aktor utama — yang memperjuangkan kemanusiaan, bukan kerakusan,”
tutup Agus Jabo dalam pernyataannya.